leaderpower.jpgHubungan pemimpin dan kekuasaan adalah ibarat gula dengan manisnya, ibarat garam dengan asinnya. Dua-duanya tak terpisahkan. Kepemimpinan yang efektif (effective leadership) terealisasi pada saat seorang pemimpin dengan kekuasaannya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Ketika kekuasaan ternyata bisa timbul tidak hanya dari satu sumber, kepemimpinan yang efektif bisa dianalogikan sebagai movement untuk memanfaatkan genesis (asal usul) kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat.
Refleksi dari kepemimpinan yang efektif, bertanggungjawab, dan terbalutnya hubungan sinergis antara pemimpin dengan yang dipimpin, adalah makna filosofis dari nasehat Rasulullah SAW: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggungjawab terhadap pimpinannya, seorang Amir (kepala negara) adalah pemimpin dan ia bertanggungjawab terhadap rakyatnya ….” (HR Bukhari & Muslim)
Genesis kekuasaan, atau dalam terminologi lain: “jenis-jenis kekuasaan (types of power)” (Robbins-1991), atau “basis-basis kekuasaan sosial (the bases of social power)” (French-1960), pada hakekatnya teridentifikasi dari lima hal: legitimate power, coercive power, reward power, expert power, dan referent power.
Legitimate Power (kekuasaan sah), yakni kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin sebagai hasil dari posisinya dalam suatu organisasi atau lembaga. Kekuasaan yang memberi otoritas atau wewenang (authority) kepada seorang pemimpin untuk memberi perintah, yang harus didengar dan dipatuhi oleh anak buahnya. Bisa berupa kekuasaan seorang jenderal terhadap para prajuritnya, seorang kepala sekolah terhadap guru-guru yang dipimpinnya, ataupun seorang pemimpin perusahaan terhadap karyawannya.
Coercive Power (kekuasaan paksa), yakni kekuasaan yang didasari karena kemampuan seorang pemimpin untuk memberi hukuman dan melakukan pengendalian. Yang dipimpin juga menyadari bahwa apabila dia tidak mematuhinya, akan ada efek negatif yang bisa timbul. Pemimpin yang bijak adalah yang bisa menggunakan kekuasaan ini dalam konotasi pendidikan dan arahan yang positif kepada anak buah. Bukan hanya karena rasa senang-tidak senang, ataupun faktor-faktor subyektif lainnya.
Reward Power (kekuasaan penghargaan), adalah kekuasaan untuk memberi keuntungan positif atau penghargaan kepada yang dipimpin. Tentu hal ini bisa terlaksana dalam konteks bahwa sang pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahannya. Penghargaan bisa berupa pemberian hak otonomi atas suatu wilayah yang berprestasi, promosi jabatan, uang, pekerjaan yang lebih menantang, dsb.
Expert Power (kekuasaan kepakaran), yakni kekuasaan yang berdasarkan karena kepakaran dan kemampuan seseorang dalam suatu bidang tertentu, sehingga menyebabkan sang bawahan patuh karena percaya bahwa pemimpin mempunyai pengalaman, pengetahuan dan kemahiran konseptual dan teknikal. Kekuasaan ini akan terus berjalan dalam kerangka sang pengikut memerlukan kepakarannya, dan akan hilang apabila sudah tidak memerlukannya. Kekuasaan kepakaran bisa terus eksis apabila ditunjang oleh referent power atau legitimate power.
Referent Power (kekuasaan rujukan) adalah kekuasaan yang timbul karena karisma, karakteristik individu, keteladanan atau kepribadian yang menarik. Logika sederhana dari jenis kekuasaan ini adalah, apabila saya mengagumi dan memuja anda, maka anda dapat berkuasa atas saya.
Seorang pemimpin yang memiliki jiwa leadership adalah pemimpin yang dengan terampil mampu melakukan kombinasi dan improvisasi dalam menggunakan genesis kekuasaan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Inilah yang disebut penulis dalam kalimat sebelumnya sebagai kepemimpinan yang efektif (effective leadership), dimana implementasinya adalah dengan “memanfaatkan genesis kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat”.
Dan marilah kita saksikan bagaimana khalifah Abu Bakar Asshidiq, menggunakan legitimate power yang dimilikinya untuk memerintahkan Usamah bin Zaid meneruskan rencana memimpin pengiriman tentara ke Syria, di sisi lain menggunakan referent power untuk meminta ijin Usamah bin Zaid agar meninggalkan Umar Bin Khattab di Madinah. Dan dalam keadaan yang berbeda, beliau memakai expert power ketika menolak permintaan Fathimah (putri Rasulullah) dengan landasan hukum fiqih dan hadits shahih, berkenaan dengan masalah harta warisan setelah Rasulullah SAW wafat.
Adalah Umar bin Abdul Aziz yang telah berhasil menggunakan coercive powernya ketika menjabat sebagai gubernur wilayah Hejaz, untuk tidak memperbolehkan Hajjaj bin Yusuf Atssaqafi (penguasa Iraq yang dhalim) melewati kota Madinah. Meskipun secara kedudukan Hajjaj memiliki tempat istimewa di hati penguasa Daulat Bani Umaiyah. Dan dengan kekuatan referent power dan reward power yang dimilikinya, Umar bin Abdul Aziz telah berhasil menyatukan kelompok-kelompok Qeisiyah, Yamaniah, Khawarij, Syiah, Mutazilah, yang secara terus menerus bertikai pada masa itu. Juga berhasil mengumpulkan ulama-ulama yang shaleh dan terkemuka yang sebelumnya telah mengasingkan diri, menjauhkan diri dari kekuasaan karena kerusakan moral kekhalifahan Bani Umayah sebelumnya. Para ulama justru mendatangi Umar bin Abdul Aziz, duduk bersama untuk memecahkan masalah umat.
Merindukan pemimpin republik yang tidak hanya pandai menggunakan coercive power dan legitimate power dalam memimpin republik. Tapi juga dengan bijak dan cerdik menggunakan expert power, referent power, ataupun reward power dalam mempersatukan seluruh anak negeri, dan mengangkat republik dari keterpurukan.
from : http://romisatriawahono.net/2006/02/09/genesis-kekuasaan/
Genesis Kekuasaan
5 Ciri Pemimpin yang Diikuti dan Dicintai
1. Pemimpin yang memahami TUJUAN dan tahu bagaimana CARA MENCAPAINYA
:Team senang apabila mereka jelas kemana arah tujuan, apa yang harus dicapai, apa ukurannya dan bagaimana strategi dalam meraihnya.
2. Pemimpin yang dapat menghidupkan perkataan melalui SIKAP dan TINDAKAN
:Pada saat Team melihat contoh teladan secara nyata dalam tindakan, maka muncullah kepercayaan dan rasa hormat.
3. Pemimpin yang memiliki energy tinggi dan menularkan ENERGY POSITIF terhadap siapapun disekitarnya.
:Adalah pengalaman yang sangat menyenangkan bila dipimpin oleh orang yg memiliki energy, antusias, selalu berbaik sangka dan pikiran yang positif.
4. Pemimpin yang bersedia MENDENGARKAN orang lain.
:Pemimpin yang mau mendengar adalah pemimpin yang menghargai masukan team, menyenangkan sebagai teman diskusi, menjadi inspirasi untuk terus belajar menjadi lebih baik.
5. Pemimpin yang BERANI mengambil tindakan dan BERTANGGUNG JAWAB atasnya.
:Pemimpin yang bertanggung jawab menciptakan team yang bertanggung jawab.
Networking, Lobbying, dan Negosiasi
Terdapat tiga kata keramat yang sering menyertai keberhasilan bisnis, networking, lobbying dan negosiasi. Dahulu lobbying sering dianggap negatif. Sekarang, perusahaan-perusahaan internasional banyak didukung oleh pelobi-pelobi mantan politikus atau mantan pemimpin dunia.
Menurut Naisbitt, salah satu kecenderungan yang akan mempengaruhi sepak terjang kita dalam dunia bisnis masa sekarang dan akan datang adalah pergeseran dari batasan antar-negara kepada kekuatan networking. Tentu saja hal ini tidak lepas dari pergeseran struktur pasar yang mengarah pada globalisasi yang melahirkan networking berskala internasional.
Kejelian dalam melihat peluang untuk melaksanakan aliansi strategis dengan tujuan dapat membentuk kekuatan secara lebih cepat dan lebih mantap menjadi sangat dominan artinya. Oleh karena itu jelaslah bahwa kita memerlukan para pemain bisnis yang memiliki wawasan global Salah satu konsekuensi dari networking internasional adalah bertambahnya derajat keragaman dalam lingkungan bisnis.
Networking dalam dunia bisnis sering diperantarai oleh kegiatan lobbying dan sebaliknya lobbying sering dipermudah jika memiliki networking yang kuat dan luas. Saya rasa kita masih perlu mendalami lebih jauh mengenai konsep lobbying dan beberapa kata kunci yang harus kita pegang dalam mengimplementasikannya.
Lobbying pada dasarnya merupakan usaha-usaha yang dilaksanakan untuk dapat mempengaruhi pihak-pihak tertentu dengan tujuan memperoleh hasil yang favorable. Favorable di sini tidak berarti selalu harus mencapai sasaran yang diinginkan atau selalu menguntungkan, akan tetapi lebih pada pembentukan sudut pandang positif terhadap topik lobbying dari kacamata pandang pihak-pihak yang menjadi sasaran atau target lobbying yang selanjutnya secara berantai diharapkan memberikan dampak positif pula bagi pencapaian tujuan kita. Jadi sebenarnya lobbying mempengaruhi target yang dilobi agar mempunyai sikap yang positif .
Sebelum melakukan lobbying, sebaiknya mengumpulkan dan menganalisa informasi yang kemudian dimanfaatkan untuk menentukan strategi lobbying. Harus diingat bahwa penentuan strategi lobbying harus didesain secara khusus untuk setiap target lobbying. Selanjutnya, dilakukan pengembangan disain lobbying yang mencakup kontak, pemilihan tempat, format isi dan aktivitas follow up yang harus dilaksanakan untuk mendukung kelancaran jalannya lobbying.
Setiap aktivitas lobbying mengandung dua hal, yaitu bagaimana mengadakan kontak dan menanamkan pengaruh. Ketrampilan lobbying adalah kemampuan kita dalam mengolah kedua hal tersebut dalam suatu bentuk kesatuan yang utuh dan tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tapi juga jangka panjang.
Setiap aktivitas lobbying selalu didahului, disertai dan diakhiri oleh adanya 'kontak', baik untuk lobbying formal maupun informal. Selanjutnya, dalam setiap aktivitas lobbying baik yang ditujukan untuk individu, organisasi atau untuk kombinasi antara individu dan kelompok tertentu, selalu terkandung tujuan yang sama, yaitu untuk menciptakan "pengaruh" positif melalui berbagai strategi dan taktik yang diterapkan.
Dalam menghadapi situasi bisnis di mana kecepatan dan ketepatan menjadi kata kunci kesuksesan, kejelian untuk dapat menangkap momen yang tepat untuk melakukan lobbying menjadi semakin penting. Lobbying tidak hanya dilakukan apabila program tersebut sudah direncanakan, tetapi dapat juga terjadi dalam suasana kebetulan, yaitu apabila kita melihat munculnya kesempatan lobbying dalam suatu acara atau aktivitas tertentu.
Merencanakan dan melaksanakan lobbying juga harus memperhatikan apakah target lobbying sudah dikenal dengan baik, atau belum dikenal sama sekali. Kita juga harus memahami reputasi target lobbying di kalangan masyarakat dan pola pembinaan hubungan praktis yang harus diikuti. Di samping itu, kita harus memahami berbagai hal yang berkaitan dengan target lobbying, seperti misalnya kebiasaan dan fokus serta kecenderungan pemikiran target lobbying karena hal ini sangat membantu dalam membina komunikasi efektif dalam proses lobbying.
Menjadi lobbyist memerlukan keterbukaan wawasan, pengetahuan dan pengalaman yang cukup mendalam. Kesemuanya ini dapat diperoleh dari proses pengembangan diri berkesinambungan yang pada awalnya harus mencakup pengembangan kompetensi untuk mengelola kombinasi "kontak-target-waktu-tempat" secara efektif dan efisien. Hal ini hanya dapat diwujudkan secara nyata apabila lobbyist telah membekali diri dengan keterampilan untuk membina hubungan dengan orang lain (interpersonal) dan tentu saja dengan kemampuan untuk menjadi active listener dan assertive presenter.
Intuisi, fleksibilitas dan sensitivitas dalam mengelola situasi merupakan elemen-elemen pendukung kesukesan suatu lobbying. Lobbying selalu mengandung unsur entertainment. Unsur penentu kesuksesan lobbying selengkapnya tertuang dalam The Jakarta Consulting Group's Lobbying Mix yang mencakup Situation, Message, Entertainment dan Follow up action.
Seringkali dalam lobbying tersimpan juga unsur negosiasi atau lobbying berperan sebagai langkah awal dari negosiasi. Kekuatan negosiasi terletak pada fokusnya, yaitu yang bertumpu pada pencapaian kesepakatan yang saling menguntungkan. Kekuatan inti negosiator ulung adalah kemampuannya untuk memotivasi pihak lain atau yang diajak berunding untuk menerima tujuan negosiasi. Ketrampilan bernegosiasi terletak pada kemampuan untuk memunculkankekuatan persuasi atau faktor intellectual nonaggressiveness yang melekatdan menolak adanya pemanfaatan crude power.
Kenyataannya, tidak mudah untuk menciptakan suasana win-win yang menuju pada kesepakatan bersama. Untuk mendukung terciptanya kondisi win-win seorang negosiator tidak boleh hanya berfokus pada kepentingan sendiri, tetapi juga fokus pada kepentingan pihak lain yang menjadi lawan runding.
Dalam menghadapi era globalisasi, semakin meningkat kemungkinan untuk bernegosiasi dengan berbagai pihak dari berbagai penjuru dunia. Dalam hal ini upaya menciptakan situasi win-win menjadi semakin kompleks, terutama karena latar belakang budaya dan kebiasaan yang berbeda.
Kegagalan negosiasi dalam konteks internasional yang seringkali muncul adalah ketidakmampuan negosiator untuk menghidupkan suasana win-win serta kelalaiannya dalam mengelola "gap" budaya yang ada. Di samping itu, bahasa yang rumit mempengaruhi penerimaan informasi dan pembentukan persepsi pihak lawan runding.
Untuk mendukung terciptanya negosiasi efektif, terdapat empat faktor budaya yang harus diperhatikan. Keempat faktor ini mempengaruhi negosiasi di mana saja dan karenanya perlu dijadikan pedoman dalam mempersiapkan negosiasi antar-budaya. Keempat faktor tersebut meliputi identifikasi pemanfaatan waktu, individualisme versus kekuatan kelompok, pola komunikasi, dan derajat kepentingan formalitas dan conformity bagi suatu pihak.
Keempat faktor ini perlu dipahami secara mendalam karena mempengaruhi aspek-aspek utama dalam proses negosiasi, antara lain mempengaruhi pace dari proses negosiasi, mempengaruhi pemilihan strategi negosiasi yang akan digunakan dan mendukung upaya terbentuk hubungan yang harmonis, rasa percaya, keterkaitan emosi dan sensitivitas.
Selain itu, keempat faktor tersebut juga membantu dalam mengidentifikasi pola pengambilan keputusan, memahami alur pikir pihak lawan runding dan memberikan kontribusi cukup besar dalam hal pemahaman hal-hal yang berkaitan dengan kontrak dan administrasi.
Networking, lobbying dan negosiasi saling mendukung. Jika Anda punya network yang luas, tentu Anda lebih mudah mengadakan lobbying. Jika Anda jago melobi, tentu dengan mudah anda dapat mengembangkan network. Jika Anda memiliki keduangya jalan ke arah negosiasi terbentang luas. Dan Anda tentu sudah mengetahui manfaatnya bagi bisnis Anda.
http://www.wikimu.com/News/DisplayColumn.aspx?id=2429
Retorika: Terampil Bukan Hanya Paham
Salah satu ketrampilan berbahasa, berbicara, yaitu aktivitas mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu (P. Dori WHSVD: 1991). Dalam berbicara ada suatu seni retorika, mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, tekhnik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, kompetensi tentang ini sudah diteorikan. Ada banyak definisi, tata cara, kiat, anjuran, dan larangan secara tertulis untuk menjadi seorang pembicara yang baik. Sangat lengkap, menyeluruh, mendetail dan mudah didapat.
Perlu dicermati, bahwa berbicara adalah salah satu ketrampilan berbahasa. Padahal, yang namanya terampil itu mencakup kecakapan dalam melaksanakan kemudian menyelesaikan tugas dengan baik. Jadi, ketrampilan harus diawali dengan pemahaman kemudian mampu melaksanakan. Bukan hanya hafal teori tentang pengertian dan mahir menyebutkan kiat-kiat supaya terampil untuk melaksanakan. Lalu paham sampai di luar kepala tentang sejarah para pembicara yang hebat, retor yang menyejarah, manfaat berretorika, kesuksesan atau keberhasilan retorika, dan lain-lain.
Namun, itu semua tidaklah cukup. Pemahaman konseptual barulah dasar untuk melaksanakan. Adapun skor penilaian, seberapa pahamkah konseptual itu adalah subjektifitas yang belum pasti benar. Untuk mengetahui kemampuan retorika seseorang harus diuji dalam posisi berretorika yang sebenarnya. Ada pesan yang akan disampaikan, ada pendengar yang siap menyimak, kemudian ada timbal balik yang timbul setelah retorika selesai, yang kesemuanya nyata sehingga bukan sekedar simulasi. Hal ini berarti orang-orang yang belajar retorika untuk terus mencari peluang agar bisa mempraktekkan ilmu yang sudah di dapatnya. Sesering mungkin dan semakin menantang berarti semakin baik bagi peningkatan kemampuan retorika. Setiap kesempatan yang menghampiri hendaknya diterima bukan malah ditolak dengan berbagai alasan. Ada pepatah baru, ”Berani itu benar”, jadi yang penting diterima dulu baru kemudian dipikirkan bagaimana nanti sebaiknya.
Peluang untuk berlatih sebenarnya bukanlah di dalam kelas atau perkuliahan. Namun di organisasi, entah itu dalam kampus atau masyarakat dimana terjadi interaksi antar sesama anggota dalam aktivitas-aktivitas yang dilangsungkannya. Diakui bahwa organisasi merupakan konsep terstruktur dalam bersosialisasi anggota-anggotanya yang pasti kesempatan untuk berretorika. Dalam setiap rapat, entah itu mingguan, bulanan, atau muktamar atau kongres yang besar, kesemuanya membutuhkan retorika. Maka, orang-orang yang aktif di dalamnya itulah yang akan memenuhi peluang mencoba untuk berlatih menuju seorang yang retor. Bahkan, semakin penting posisi yang diduduki, semakin besar dan menantang pula kesempatan yang didapat, misalnya menjadi pembicara dalam seminar, talk show, atau diskusi. Jadi, aktivis organisasi itulah yang akan menjadi retor handal dan tentunya bukan seorang pembelajar yang hanya memahami teori tanpa mau mengaktualisasikannya.
Selain itu, seorang yang ingin mampu berretorika, harus banyak memiliki pengetahuan yang bisa untuk disampaikan. Karena, inilah sebenarnya yang penting, yaitu adanya timbal balik dari penyimak setelah memahami pesan-pesan yang disampaikan oleh retor. Semakin banyak dan mumpuni pengetahuan yang dikuasai, semakin banyak pula bahan yang bisa kita sampaikan, karena yang harus dipelajari bukan hanya bagaimana berretorika tetapi juga materi yang diusung. Walau begitu, sedikitnya yang dikuasai bukanlah halangan untuk kemudian menjadi alasan tidak mencoba, karena yang benar adalah, sampaikanlah yang kamu pahami walau sedikit mungkin. Sehingga, kebiasaan yang diawali dari yang sedikit dan kecil-kecil itulah yang akan menjadi dasar suatu capaian yang besar.
Kemudian, harus dicamkan bahwa berbicara retorik itu dapat dipelajari. Setiap manusia memiliki potensi untuk melakukan aktivitas ini, namun yang membedakannya adalah seberapa besar kemauannya untuk berlatih, terus mencoba, dan tidak mudah putus asa karena kadang ada kesalahan dan hambatan yang muncul. Jadi, dalam berbicara yang dibutuhkan adalah kemauan yang besar untuk mencapai kemampuan yang menakjubkan. Kemampuan ini menjadi mustahil ketika tidak ada niatan yang besar untuk mencapainya. Kemudian tanpa lelah terus berlatih dengan mendengar, mengamati, menganalisis, kemudian meniru tapi dengan karakteristik gaya kita sendiri.
Retorika itu seperti orang berenang. Walau seorang pembelajar itu tahu teori berenang gaya bebas, dada, kupu-kupu, dan sebagainya, dan sampai hafal di luar kepala, namun tidak mau menceburkan dirinya ke dalam air, mencoba merasakan sesungguhnya perhelatan yang nyata, maka mustahil bagi dia bisa berenang. Baru setelah mau mencoba itulah tahu bagaimana mengaplikasikan teori berenang yang sudah di dapat, tahu benar kesalahan-kesalahan yang mungkin didapat ketika berenang, pernah merasakan kepayahan akibat berenang, dan menyadari bahwa berenang itu adalah ketrampilan bukan teori. Hal tersebut berlaku juga untuk retorika. Selama para pembelajar tidak mencoba, selama itulah dia hanya hafal teori yang mendapat nilai bagus ketika tes tertulis. Dengan mau mencoba dan rajin berlatih, akan muncul seorang retor yang berbahagia ketika menyampaikan pesannya yang mengawali pembicaraan dengan menarik dan mengakhirinya dengan mengesankan.
from : http://hamsmars.blogspot.com/2008/08/retorik-terampil-bukan-hanya-paham.html
Belajar leadership dari Sang BUDDHA
Sebagai pemimpin, Buddha tidak membuat orang-orang tergantung kepada-Nya. Kepemimpinan yang ditunjukkan Buddha adalah bagaimana membuat orang yang dipimpin meningkatkan kualitas dirinya. Berlindung kepada Buddha pun tak lain dari menjadikan Buddha sebagai pembawa inspirasi, penuntun hidup, bahkan tujuan hidup.
Dengan menghormati Buddha dan nilai-nilai kebuddhaan, umat mendapat dorongan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur, mengambil cinta kasih dan kebijaksanaan Buddha sebagai teladan, dan bekerja keras untuk menjadi sama seperti Buddha. Disadari atau tidak, tiap manusia dapat menjadi Buddha. Manusia memiliki hakikat Buddha atau benih Buddha. Dalai Lama melihatnya sebagai Buddha Kecil, istilah yang dipopulerkan Bernardo Bertolucci melalui filmnya, Little Buddha.
Kebanyakan orang ingin menaklukkan orang lain, Buddha mengajarkan agar kita menaklukkan diri sendiri. Kebanyakan orang mengejar jabatan dan kekayaan. Yang berpeluang dan berjuang, atau bermimpi, semua ingin menjadi penguasa.
Tidak demikian dengan Buddha. Setelah menjadi Buddha, Dia mudah menduduki takhta dan menggunakan kekuasaan pemerintahan untuk menyiarkan agama. Tetapi itu tidak dilakukan. Menurut Buddha, ada yang lebih baik dari kekuasaan di Bumi, lebih baik daripada memerintah seluruh jagat, yaitu kemuliaan memenangi tingkat kesucian.
Pandangan ini tidak menunjukkan Buddha menyangkal perlunya kekuasaan pemerintahan. Dia amat dihormati raja-raja dari berbagai negara dan mengajarkan bagaimana memimpin negara dengan baik, cinta damai, dan menempatkan kesucian di atas kekuasaan dan kekayaan.
Menurut Buddha, pemimpin harus memenuhi sepuluh kewajiban. Etika kekuasaan menyentuh semua kewajiban ini.
Kewajiban pertama mengenai kemurahhatian. Dalam hidup kenegaraan, penguasa bertanggung jawab memelihara dan meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan kemampuan menjamin keselamatan ekonomi negara.
Kedua, pemimpin harus memiliki moral yang baik sehingga pantas dijadikan teladan dan dijunjung.
Ketiga, sedia berkorban dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
Keempat, integritas atau tulus, jujur, dapat dipercaya, dan mewujudkan pemerintahan yang bersih.
Kelima hingga kesembilan adalah kebaikan hati tanpa mengabaikan tanggung jawab dan keadilan, hidup sederhana, bebas dari amarah, tanpa kekerasan, dan sabar.
Kesepuluh, tidak boleh bertentangan dengan kebenaran atau melawan kehendak rakyat. Terpenuhinya hal-hal ini akan membuat penguasa berwibawa dan kuat posisinya dalam kehidupan berbangsa yang demokratis.
Oleh karena itu, untuk memilih seorang pemimpin, latar belakang kehidupan pribadi dan bagaimana moral orang yang dicalonkan sepatutnya disorot secara terbuka.
Buddha mengingatkan, ada empat penyebab kemerosotan, yang dalam konteks kenegaraan diterjemahkan oleh Aung San Suu Kyi sebagai berikut: Ada yang hilang, yaitu hak-hak demokratis yang diambil oleh kediktatoran militer, dan berbagai usaha belum cukup untuk mendapatkannya kembali. Ada yang rusak, yaitu nilai-nilai moral dan politik yang dibiarkan memburuk. Ada pemborosan karena perekonomian diurus secara ceroboh. Yang terakhir menyangkut moral pemimpin. Krisis politik terjadi saat negara dikuasai orang-orang yang tidak memiliki integritas dan kebijaksanaan. Salah memilih pemimpin akan membuat kita semakin terperosok dalam kemerosotan.
Ketika kita menginginkan reformasi terus bergulir melalui pemilu dan pemilihan presiden, momentum merayakan Waisak sepantasnya digunakan untuk mengingatkan bahwa ada yang lebih baik dari kekuasaan dan kekayaan, yaitu kesucian. Dan, tidak ada kesucian di luar kebenaran.
Jika seseorang berbicara dan berbuat dengan pikiran suci, kebahagiaan akan mengikutinya, seperti bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan dirinya.
Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas: Berusaha menolong semua makhluk. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.
RINGKASAN:
Mau menerima nasihat atau kritik dari orang lain. Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya.
Kemauan yang keras membaja. “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan , tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.” (saat digoda setan dan lelah bersemedi).
Empowering bawahan. Sang Buddha memberi pelajaran tentang dharma kepada lima pertapa Buddha berkelana menyebarkan Dharma selama 45th lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya akan wafat, Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, mengandung arti yang sangat dalam bagi siswa-siswa-Nya karena mengandung prinsip-prinsip beragama, seperti Percaya pada diri sendiri dalam mengembangkan Ajaran Sang Buddha; Jadikanlah Ajaran Sang Buddha (Dharma) sebagai pencerahan hidup; Segala sesuatu tidak ada yang kekal abadi; Tujuan dari Ajaran Sang Buddha (Dharma) ialah untuk mengendalikan pikiran; Pikiran dapat menjadikan seseorang menjadi Buddha, namun pikiran dapat pula menjadikan seseorang menjadi binatang; Hendaknya saling menghormati satu dengan yang lain dan dapat menghindarkan diri dari segala macam perselisihan; Bilamana melalaikan Ajaran Sang Buddha, dapat berarti belum pernah berjumpa dengan Sang Buddha. Mara (setan) dan keinginan nafsu duniawi senantiasa mencari kesempatan untuk menipu umat manusia; Kematian hanyalah musnahnya badan jasmani; Buddha yang sejati bukan badan jasmani manusia, tetapi Pencerahan Sempurna; Kebijaksanaan Sempurna yang lahir dari Pencerahan Sempurna akan hidup selamanya di dalam Kebenaran; Hanya mereka yang mengerti, yang menghayati dan mengamalkan Dharma yang akan melihat Sang Buddha; Ajaran yang diberikan oleh Sang Buddha tidak ada yang dirahasiakan, ditutup-tutupi ataupun diselubungi.
Memotivasi bawahan. Sang Buddha bersabda, “Dengarkan baik baik, wahai para bhikkhu, Aku sampaikan padamu: Akan membusuklah semua benda benda yang terbentuk, berjuanglah dengan penuh kesadaran!”
Tunjukkan loyalitas pada bawahan. Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna) yang diwujudkan oleh sabda Buddha Gautama, “Penderitaanmu adalah penderitaanku, dan kegembiraanmu adalah kegembiraanku.” Manusia adalah pancaran dari semangat Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang dapat menuntunnya kepada Pencerahan Sempurna.
FROM : http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/message/16296
LEADER
Sebuah pekerjaan yang sangat berharga untuk menjadi modal dasar bagi Mas temon dalam rangka menjadi manager yang baik. Tiada manusia yang sempurna. yang sempurna adalah ketidaksempurnaan itu sendiri. Konsekuensinya adalah kita diwajibkan untuk menjadi orang yang berusaha menjadi sempurna wl itu utopis. Yang tidak utopis adalah tetap berusaha dan berusaha menjadi lebih baik.
Cobalah Mas Temon belajar mengidentifikasi diri sendiri dulu, mana yang menjadi kelemahan dan keunggulan diri sendiri. Misalnya: Mas Temon mempunyai kelebihan di bidang Marketing dan IT. Kembangkan itu. Pertanyaan selanjutnya, apakah Mas temon sudah memupuk jiwa leadership? Sebagai manajer harus lebih dari pengelola yang lain. Sudahkah Mas Temon memiliki kemampuan retorika yang baik dan kemampuan lobbying yang baik? Mas temon yang bisa menjawab.
Langkah kedua, identifikasi kelemahan dan keunggulan masing2 pengelola. Denagn mengetahui hal itu, Mas temon bisa menempatkan orang sesuai dengan bidangnya. Jangan terlalu kaku memanage SDM, wl di atas kertas sudah ditetapkan siapa PP, TI dll, tapi dalam prakteknya harus menjadi team work yang handal untuk saling melengkapi.
Yang berikutnya, sejak awal seringlah melakukan pertemuan untuk monitoring dan evaluasi kegiatan dan keberhasilan masing2 pengelola.
Buat ide-ide baru yang inovatif sebanyak mungkin, wl nanti yang bisa dilaksanakan tidak lebih dari satu.
Sejak awal lakukan proses dan penataan administrasi yang baik.Jangan pernah permisif terhadap administrasi yang gak karuan, tp manajer harus bisa memberi petunjuk yang benar.
Sebagai manajer harus menjadi teman bagi pengelola lain tetapi sekaligus sebagai pemimpin yang harus disegani dan berwibawa. tapi tetap akrab.
Jangan takut mengganti pengelola jika sudah tidak dapat dibina lagi dengan berbagai upaya.
Terbukalah terhadap keuangan sehingga setiap pengelola berusaha untuk mengamankan keuangan kita.
Sebagai manajer jangan pernah dikendalikan oleh pihak ketiga sehingga menyebabkan kita hanya sebagai wayang, misalnya pak lurah, pak camat, Dinas Kominfo yang terlalu mencampuri urusan dalam rumah tangga. Tapi jadikan mereka partner yang saling menghormati dan bahkan bisa segan kepada kita.
Semoga bisa menjadi bekal awal yang baik, dan jadilah Mas Temon sebagai diri sendiri.
Good Luck, you are the best and You must believe to yourself.
nasehat pak pidekso
makasih pak pid
Doa Telecenter
Mari tundukan kepala. Rilexkan tubuh kita. Mari kita berserah diri & memohon pada allah. Ikuti kata kata ini dalam hati & resapi dengan jiwa yang tulus.
ya allah
aku memohon padamu kebaikan pekerjaan ini dari segala kebaikan yang ada di dalamnya,
dan aku berlindung padamu dari keburukuan pekerjaan ini,
sesungguhnya engkau adalah maha berkuasa,
ya allah aku serahkan padamu pekerjaanku dan jiwa ragaku
aku bertawakal kepada engkau ya allah
Ya ALLAH..
Kami berkumpul & bersimpuh di hadapan Mu untuk memanjatkan puji syukur atas segala nikmat karuniaMu,
sehingga .........hari ini dapat menjalankan amanat Telecenter untuk melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepada kami.
Ya ALLAH .. Ya Rob,
Jadikanlah pekerjaan kami sebagai ibadah,
dan jadikanlah hasil pekerjaan kami bermanfaat untuk telecenter,
bermanfaat untuk masyarakat kami, bermanfaat untuk kami dan keluarga kami,
sehingga kami dapat mewujudkan masyarakat yang lebih maju pengetahuan, informasi, ekonomi, dan mewujudkan keluarga sakinah, mawadah dan warohmah dengan dukungan teknologi informasi.
Ya ALLAH yang Maha Kuasa
Jadikanlah pembina & pemimpin kami.. menjadi pembina & pemimpin yang amanah..
Pembina & pemimpin yang bijaksana.
Tunjukkanlah kepada yang salah itu salah dan yang benar itu benar.
Berikanlah kemampuan baginya untuk mewujudkan telecenter yang yang tumbuh baik,
yang menguntungkan bagi masyarakat & semua pengelola,
& mampu membuat telecenter bisa mandiri.
Ya ALLAH yang menguasai Bumi dan Langit
Sungguh betapa dha’ifnya hambamu, sementara tugas dan amanah yang Kau bebankan kepada kami semakin hari semakin berat,
maka izinkanlah kami memohon perlindungan-Mu,
berikanlah kemampuan dan semangat pengabdian yang tinggi
Berikanlah kami kemampuan untuk bekerja,
hindarilah kami dari perbuatan yang merugikan telecenter, merugikan diri kami, dan merugikan keluarga kami.
mohon hapus rasa curiga kami, rasa iri kami, rasa sombong kami ya allah
Seandainya benar, bahwa kami memang tidak layak untuk menjadi ahli surga maka apalah daya kami ya allah
Ya Allah dengarlah suara kami, dengarlah rintihan jiwa kami,
sesungguhnya kami tidak kuasa dan tidak kuat menahan panasnya api neraka.
Kami mohon ya Allah, terimalah tobat kami, tolonglah dan ampunilah kami ---
ampunilah segala dosa dosa kami karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pengampun
terhadap segala kesalahan dan kehilafan kami,
masukkanlah kami bersama hamba-hamba Mu kedalam surga dengan jiwa yang tenang atas ridha Mu.
Ya ALLAH yang Maha Bijaksana
Wujudkanlah hasil pekerjaan kami, satukanlah hati & jiwa kami untuk saling bahu membahu dalam menjalankan amanah dari telecenter.
Ya ALLAH yang Maha Pengasih & Maha Penyayang
Ampunilah dosa-dosa kami, dosa-dosa keluarga kami & ampunilah pula dosa kedua Orangtua kami baik yang ada apalagi yang telah tiada.
Bukakanlah pintu sorga bagi kami, bukakanlah pintu rizki bagi kami..
Ya allah
Terimalah amal perbuatan kami, kabulkan do’a kami dan permohonan kami.